Karya Bahtiar Ali



Hai semuanya, ini post pertama gue loh :D gue gatau nih mau apaan sama blog baru gue, tapi sebagai pembuka kata gue mau post cerpen yang ngasal tapi ini di buat cuma dalam waktu 2 jam .. gausah kelamaan nih cerpennya ...


PERJUANGAN TANPA HASIL


Pepohonan hijau, tanah yang subur, udara yang sejuk, kini mulai terasa ketika diriku mulai menapaki salah satu keindahan alam . Mengalir desiran air yang kian menambah eloknya pemandangan di daerah ini, serta awan kabut yang menyelimuti mata, pemandangan luar biasa Nampak pada lereng Gunung slamet ini.

“Prakkk!!” suara itu membuat kaget kami semua, bak mendengar berita kiamat akan datang besok kami menoleh kebelakang. Ternyata Gina yang jatuh, kami langsung lari untuk menolongnya.

“Gin kok bisa jatuh sih” salah satu dari kami menyeletuk.

“Iya tadi soalnya susah banget jalannya” Gina menjawab.

“Tapi masih bisa kan bawa motor”? sambung mahfud

“Iya bisa kok, tapi agak takut nih aku sekarang”

“Udah bawannya yg pelan aja, toh masih jam segini” mahfud menenangkan.

            Perjalanan di lanjutkan, memang di daerah lereng Gunung jalan yang buat kendaraan masih jauh dari harapan. Disini hanya batu – batu yang tak teratur menjadi jalan buat kendaraan. Sejauh mata memandang kami terus di suguhi bagaimana indahnya alam, kekayaan alam , kami menikmati setiap hembusan nafas dari udara yang ada disini. Dengan bermata pencaharian sebagai petani, mereka hidup makmur.

Perjalalanan kami tak semulus apa yang di bayangkan, kami semua terus mengalami hambatan – hambatan karena terjalan batu-batu yang tak teratur, tak menyerah begitu saja kami terus melanjutkan perjalanan. Perjalanan kita lalui layaknya para pengembara kami saling bertanya satu sama lain untuk mencari informasi tentang penelitian sumur pengantin.

Setelah beberapa lama kami sampai, rumah yang sederhana, berlatar sedang kami langsung turun dari motor kemudian kami bertanya pada anak-anak yang pulang dari TPA. Ternyata rumahnya berada di sebelah kami. Karna waktu sudah sore kami langsung mengetuk pintu.

“Tokk, tokk, tokk”

“Assalamualaikum”

Salam kami ucapkan namun belum ada jawaban, entah berapa kali kami mengetuk masih belum ada jawaban, kami mulai pasrah dengan keadaan, matahari mulai hilang senyumnya, kami semua masih mencoba menggali informasi tentang sumur penganten. Untuk yang terakhir kami mengetuk pintu, akhirnya penghuni rumah keluar. Seorang nenek tua yang sudah mulai renta menyapa kami.

“Ada apa ya dek, mari sini masuk dulu”

“Iya bu, makasih”

Kami berenam masuk, yang lain masih menunggu di luar untuk mengabadikan sebuah momen pada desa ini. Mereka seakan tak merasakan dingin pada udara yang menyerang seluruh badan kami.

Nitha mulai membuka pertanyaan.

“Ini bu, maaf mengganggu, kami ingin bertanya…”

Kata-katanya di potong oleh ibu tadi, kemudian kami di persilahkan duduk.

“Mau nanya apa ya” Jawab ibu yg memotong perkataan nitha

“Kami kana da tugas penelitian, nah kami pengin tau gimana asal-usul sumur pengantin”?

Tak langsung dijawab ibu sedikit berfikir “Kalian dari mana”?

“Kami dari SMA N 1 Sirampog bu” jawab kami serentak

“Oh, kalau mau tanya soal sumur pengantin saya tidak tau” Jawab ibu yang sepertinya menyembunyikan sesuatu dari kami.

Sementara yang lain masih sibuk asyik berfoto-foto diluar, mereka mengambil kesempatan untuk melihat pemandangan yang luar biasa indahnya di lereng gunung ini, di perbukitan yang menjulang tinggi dengan pepohonan yang rindang, sungguh beruntung semua yang ada disini.

“Maksud ibu?” kami terheran heran

“Kalau mau main kesana, main saja tidak usah menanyakan tentang asal-usul, kelamaan”

Suasana menjadi hening, kami seakan tida         k di hargai dengan perjalanan yang sudah kami tempuh. Aku membuka suara untuk pamit kepada ibu ..

Dengan perasaan kecewa kami langsung pergi begitu saja. Dalam perjalanan pulang aku terus memikirkan tentan kejadian yang baru saja kami lewati. Untuk mengobati kecewa kami melihat permaianan sepak bola kebetulan teman kami ada yang bermain yaitu Ronaldo, kami dukung sekuat tenaga sembari menghilangkan kekecewaan tadi., Setelah tenang kami pulang.


Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Karya Bahtiar Ali"

Post a Comment